Sinapsis ke dua.
Karena raja merasa capai menelusuri hutan larangan, maka ia menyuruh ponggawa dan pengawal untuk terus berburu. Ia sendiri bernaung dibawah pohon beringin. Kemudian ia kencing ke dalam ‘batok bulu’. Air kencing diminum babi hutan (Celeng Wuyung).

Begitulah sinapsis kedua dari cerita Sang Guru Hyang. Raja disini bukan lagi simbul dari Kepemrintahan Namun menjadi simbul seorang laki-laki. Inti dari maksud sinapsis ini adalah. Pernikahan oleh laki-laki tidak lagi dianggap sakral dan suci melainkan hanya untuk melampiaskan napsu dan menghalalkan jinnah saja.

Akibat dari wanita dianggap sekedar pemuas napsu laki-laki. Maka akan melahirkan “Celeng wuyung” atau pelacur. Banyaknya pelacur di negri ini akibat dari sebuah pernikahan yang tidak dianggap suci. Ia hanya dianggap hiburan dan pemus napsu belaka. Hingga hal yang sangat keji menurut Agama dianggap wajar dan biasa.

Bangsa akan hancur jika Pernikahan sudah tidak dianggap sakral dan suci …..?

Wanita menurut budaya Sunda sakral dan Suci. Ia adalah perantara dirinya untuk mencapai cita-cita dan tujuan dalam hidupnya. Sedangkan tujuan utama hidup adalah menjalankan fungsi sebagai khalifah yang sekaligus sebagai hambaNya. Laki-laki tidak akan sangggup merealisasikan tugas, konsep hidup dan kewajiban hidup tanpa sosok wanita. Jika wanita hanya dianggap pelampias napsu bagi kaum laki-laki disana. Maka kaum wanita banyak yang memposisikan diri sebagai penghibur bukan sebagai Tiang negara seperti yang diharapkan Nabi dan Rosul.

Bagiamana Perkawinan yang tidak sakral dapat menghancurkan bangsa dan negara….?

Nanti kita lanjutkan cucuku……..pun.