Sinapsisnya.
Setelah minum air kencing Raja Celeng wuyung hamil dan melahirkan bayi wanita diberi nama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi diserahkan kepada Raja. Kemudian dayang Sumbi di pelihara oleh emban di kerajaan Parahiyangan dan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

Tanda kehancuran yang kedua adalah “Jika perkawianan tidak lagi dianggap sakral dan suci”
Tanda kehancuran yang ketiga SEORANG IBU SUDAH TIDAK MENYAYANGI ANAKNYA

Dalam sinapsis tersebut tersirat bahwa selanjutnya tanda kehancuran bangsa tersebut bila seorang ibu tidak merasa bertanggungjawab kepada anaknya. Hingga ia menyerahkan kepada orang lain. Saat ini banyak ibu yang menyerahkan anaknya kepada pembantu dengan berbagai alasan. Ia tidak ada waktu untuk bercengkrama dengan anaknya. Hingga anak lebih dekat kepada pembantu daripada kepada ibunya sendiri.

Pendidikan moral dari pembantu tentu tidak akan sama dengan pendidikan ibu. Bisa saja anak wanita karier yang panda dan sukses. Pola pikir anaknya seperti pembantu.

Kemudian banyak juga ibu yang seperti mencintai putra dan putrinya. Padahal ia menjerumuskannya. Dalam istilah budaya Sunda “…Nyaah dulang…” hanya merhatikan hal duniawi dan lahiriyah saja hingga kekayaan bati dan jiwa anak merana. Ia berlimpah dengan harta namun miskin jiwanya.

Saat ini lebih hebat lagi banyak ibu yang menyiksa lahir dan batin, bahkan sampai membunuh dan atau mengugurkan anak yang dikandungnya. Hingga timbul undang-undang perlindungan anak. Mulai ada ibu dan orang tua yang melakukan kekerasan kepada anaknya.

Demikianlah gambaran Budaya Sunda. Jika kita paham hal ini seharusnya kita mengantisipasi hal ini sebelum terjadi.

Carita dianggap dongeng taya manfaat jeung maslahat. Cag dugi dieu heula anaking…..pun