Saat ini seni hanya digunakan untuk hiburan. Sulit dipercaya jika seni ini sangat berpengaruh kepada jiwa manusia dan bisa digunakan untuk membentuk karakter jiwa. Bahkan membentuk tangtung (ketaqwaan) yang kokoh dan kuat.

Tidak semua orang bisa terhibur dengan sebuah seni…..? Suatu bukti bahwa seni sebenarnya bukan alat untuk hiburan. Jika dianggap alat untuk hiburan maka semua harus terhibur. Bodor atau lawak saja ada orang yang tidak menyukainya. Jika sepakat tentang hal ini timbul pertanyaan.

Kenapa kita terhibur oleh seni?
Saat jiwa kita selaras dengan seni. Maka kita akan merasa terhibur dan senang atau menyukai seni tersebut. Jika kita paksakan jiwa kita untuk mengekpresi dan berapresiasi dengan seni maka lambat laun kita aka senang dan nyaman terhadap seni tersebut. Saat merasa nyaman dan senang maka jiwa kita sudah selaras dengan seni tersebut. Seni pembentuk karajter jiwa kita……

Kenapa seni turun ke dunia ini….?
Seni turun ke dunia untuk merubah karakter kita. Karakter ahir yang dituju adalah ketaqwaan.
Untuk hal ini kita ambil satu karakter seni saja sebagai analogi berpikir kita. Kita tahu bahwa dangdut lahir di India dengan nama asal Irama Gangga. Meski saat ini dianggap musik Indonesia mudah-mudahan masih mengenal bahwa dangdut tersebut awalnya Irama Gangga.

Kenapa dangdut atau irama dangdut turun di sekitar sungai gangga sehingga terkenal dengan irama gangga…..?

Disepanjang Sungai Gangga pada saat itu terkenal pemukiman Biara dan Pendeta. Sampai sekarang Sungai Gangga tempat suci Agama budha. Pendeta dan biara tersebut tidak menginginkan pernikahan (tidak menikah). Sedangkan mereka adalah manusia yang terbaik saat itu. Jika pendeta dan biara tidak menikah berarti orang baik akan terputus (abstar). Untuk menibulkan kembali berahi dan kesenangan menikah maka Irama gangga turun disana.

Bisa kita bayangkan di negara yang penduduknya sudah senang menikah. Kemudian digoyang dangdut. Maka akan oper capasitas, bangsa dan negara tersebut akan bermunculan pelacur yang sulit untuk diatasi. Tidak mungkin kita melarang prostitusi saat dangdut di dewakan disuatu daeran. Sebab karakter dangdut demikian. Hingga yang menyukai dangdut juga seperti itu.

Tentu saja hal ini akan ditolak mentah-mentah bagi pedangdut sejati. Namun inilah kenyataannya. Hal ini perlu diungkap disini untuk menegaskan bahwa seni berbanding lurus dengan karakter jiwa manusia. Karena itulah rekomendasi seni dari leluhur Sunda adalah Tribawana tangtung ini.

Kesempurnaan jiwa Sunda jika orangnya senang kepada Tembang, Degung dan Penca Silat. Jika maniak seni yang lain berarti ada penyimpangan karakter dari yang diharapkan leluhur Sunda. Hingga orang Sunda mustahil bisa menemukan tangtung pribadinya. Ia akan terseret dan terombang ambing bangsa asing. Jadi badega di nagarana sorangan. (Jati kasilih ku junti)

Cag dugi kadi heula anaking…..Pun.