I. PENDAHULUAN

“……….Kemajuan suatu bangsa dan negara tidak tergantung kepada benar atau salahnya sebuah Agama……….” Sebuah kesimpulan yang berat dari perjalanan tapakur seorang Muslim. Bagaimana tidak kita berharap ada sebuah penyelesaian yang terbaik dalam Agama Islam, namun begitu sulitnya pemikiran manusia memahami Islam hingga segala konsep yang dilaksanakan oleh Ulama dan Ustad ternyata tidak menggembirakan dalam pembangunan bangsa dan negara kita. Bukan hanya di negara kita di negara mayoritas berpenduduk Islam lainpun tidak jauh berbeda.

Jika Ulama saja banyak salah mengaplikasikan Agama Islam, apalagi umatnya. Maka kita berharap ada sebuah koreksi yang berimbang secara menyeluruh. Salah satu perbedaan cara pandang misalnya tentang hal Jihad. Saya angkat dahulu hal ini hanya sebagai suatu contoh dari permasalahan saja. Ada ulama yang berkeyakinan bahwa jihad ini dengan memerangi orang kafir termasuk didalammnya menghacurkan aset dan milik orang kafir. Namun hal ini dianggap sebuah tindakan teroris yang tidak Islami oleh sekelompok ulama lain. Anehnya ulama yang menganggap jihad dengan peledakan bom teroris tersebut tidak memberi contoh tindakan jihad yang lain. Hanya berbicara tanpa sebuah realisasi dan uswatul khasanah sebuah jihad yang Islami menurut pemahaman dan nalarnya.

Semisal ada yang berpendapat bahwa jihad tersebut berperang dalam keadaan perang. Saat ini terjadi sebuah perang idiologi, perang budaya, perang pemikiran. Namun ulama yang menyatakan jihad versi ini tidak pernah berperang idiologi, tidak memiliki strategi untuk berperang budaya, tidak juga memiliki perusahaan untuk bersaing dengan bangsa Asing sebagai bukti bahwa ia sedang berperang dalam sektor ekonomi. Ulama yang seperti ini juga sama seperti ulama yang cenderung dianggap teroris ia hanya membaca dan memegang kitab sebagai teoritis tanpa sebuah aplikasi.

Pembenaran kepada terorisme sebagai jihad dalam Islam masih akan berjalan jika ulama yang menyatakan teroris tidak Islami tersebut tidak membangun sebuah sistem perjuangan lain untuk mengangkat eksistensi bangsa dan umat dihadapan musuh besar dan musuh bebuyutan kita, yang dikabarkan oleh Allah  yaitu persekutuan manusia dengan iblis. Hal ini terbukti sulitnya menangkap gembong teroris di negara kita. Saat dikejar-kejar polisi teroris sempat beberapa kali menikah dan punya anak. Hal ini sebuah bukti dukungan kepada teroris kendati dari kaum minoritas. Saat teroris terbunuh dan tertangkap mungkin akan muncul teroris baru.

Sekelompok ulama menabuh genderang jihad kepada tindakan terorisme. Jika ada strategi lain yang disertai contoh tindakan selain tindakan terorisme dalam berjihad maka umat memiliki pilihan lain. Hingga tidak mungkin mendukung seorang gembong teroris di negara kita. Sementara mujahid dianggap teroris kemudian tidak terbangun strategi jihad lain selain teroris. Maka selama itu juga jiwa muda yang haus dengan kebenaran dan keadilan akan menganggap bahwa berjihad dengan teroris tersebut lebih menentramkan daripada harus menyaksikan sebuah kedzaliman dan kemunafikan di depan matanya.

Jika kita tidak memberi solusi strategi yang lain kepada para mujahid, maka semakin ia diburu semakin bergairah dengan keyakinannya. Semakin dihukum mati maka semakin bergairah pula menjemput kematian dihadapan hukum orang kafir dan munafik dalam persinya. Hingga hukuman mati bagi terorisme tidak akan menyulutkan para mujahid dalam menegakan perjuangannya. Hukuman mati hanya efektif untuk manusia yang menganggap kematian adalah sebuah musibah yang besar dan takut dalam menghadapi kematian tersebut. Namun bagi mujahid hukuman mati dari kaum kafirin dan munafikin adalah jalan yang terbaik dalam menuju surga Illahi. Karena itulah hukuman mati sangat tidak efektif bagi terorisme. Orang yang tidak gentar dan tidak merasa takut dihukum mati?

Hukuman mati hanya akan efektif bagi seorang pengecut seperti bandar NARKOBA, KORUPTOR dan penjahat-penjahat kelas teri lainnya yang tidak kalah bahayanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi teroris lebih cepat lebih baik. Dalam arti lebih cepat ia mencapai kematian maka akan lebih baik. Karena hanya dengan kematianlah ia bisa melepas beban jiwanya dalam menghadapi kaum kafir dan munafik dalam versinya. Kendati yang dianggap kafir tersebut ulama dan pemerintah yang merasa benar, telah mengikuti ajaran Agama Islam.

Apa akar permasalahan terorisme ini?

Sebuah ketidak adilan dan sebuah kesenjangan sosial yang dibangun secara sistemik hingga nampak wajar dan benar sesuai dengan undang-undang yang ada. Dalam masyarakat Islam tidak mungkin terjadi sebuah kesenjangan sosial dan ketidak adilan sosial. Karena menyelesaikan permasalahan sosial adalah tugas umat. Yang terwujud dalam sebuah konsep zakat. Zakat dalam Islam bukan hanya sekedar membersihkan harta dan jiwa seperti penebusan dosa dalam Agama Nasrani atau hanya sedekah seperti dalam konsep Agama yang lain. Melainkan sudah ditentukan dengan maksud utama adalah penyelesaian delapan permasalahan sosial yang tidak mungkin diselesaikan secara perseorangan.

Dengan konsep seperti ini maka semua permasalahan sosial menjadi tanggungan bersama. Hingga dalam masyarakat Islam tidak akan terjadi sebuah masalah  seperti kesenjangan sosial si kaya dan si miskin. Karena si kaya memiliki kewajiban untuk membantu si miskin. “…….tahukah kamu pendusta Agama. pendusta agama tersebut yang menghardik pakir miskin dan anak yatim…….” dengan konsep seperti ini maka seluruh kesenjangan akan teratasi. Jika terjadi kesenjangan sosial dan jurang pemisah antara si Kaya dan si Miskin berarti hal ini hanya akan terjadi di dalam masyarakat kafir dan munafik. Dalam keadaan seperti ini akan tumbuh rasa kepedulian mujahid hingga berjuang untuk menegakan hukum Islam. Dan terjadilah sebuah penyimpangan jihad karena sebuah tekanan kekuasan. Yang kita kenal dengan kata teroris.

Jadi sebenarnya teroris tersebut lahir dari sebuah tekanan dan penyimpangan ajaran Islam ke arah ajaran individu dan liberalisme. Hidup dalam Agama Islam tidak bebas namun memiliki konsekwesi tanggungjawab sebagai  hamba Allah dan Khalifatullah di muka bumi ini. Kita menjalankan tugas dan kewajiban dari Tuhan Semesta Alam. Sangat mustahil dalam keadaan menjalankan tugas kita bisa bertindak cuek dan bebas. Dalam ajaran Islam sebuah interaksi sosial harus berjalan secara harmonis. Hingga tidak mungkin ada dinding dari kelompok manusia ke kelompok manusia yang lain. Sebab ada sebuah jembatan kewajiban untuk menyelesaikan delapan permasalahn hidup tersebut seperti teratur dalam konsep zakat.

Ada sebuah cara untuk berjihad selain teroris atau jika teroris tersebut dianggap salah. Yaitu mencairkan gunung es yang menghalangi kesenjangan sosial si miskin dan si kaya atau membobol dinding pebatas sosial tersebut. Hingga masalah sosial bukan lagi masalah pribadi. Kemiskinan bukan hanya masalah individu namun menjadi masalah umat hingga si kaya peduli kepada si miskin dan seterusnya. Namun konsep Islam yang baik ini tidak pernah dipahami meskipun oleh para ulama di Indonesia hingga ia tidak pernah mengambil alih tugas menyelesaikan kemiskinan saat negara kolap dalam menanganinya. Kemudian kesenjangan dan permasalahan sosial hingga permasalahan idiologi berubah menjadi sebuah jurang yang menanti bencana lebih besar.

Kenapa demikian? Agama manapun tidak cukup cakap untuk membangun moral dan mental manusia. Pembangunan moral dan mental serta pengajian jatidiri dan Purwadaksi perlu sebuah formula lain selain Agama. banyak negara yang dibangun tidak oleh Agama Islam dan Agama Nasrani malah mampu mencari jatidiri hingga memiliki martabat dan derajat hidup di dunia ini. Padahal martabat dan derajat hidup ini hanya dijanjikan kepada mereka yang berilmu dan bertaqwa. Konsekwensinya ketaqwaan tersebut dalam Agama Islam. Jadi negara yang berpenduduk mayoritas lslamlah yang harus diberi petunjuk oleh Allah untuk mencapai kemajuan dalam maratabat dan derajat berbangsa dan bernegara.

Namun kenyataan ilmu dan derajat hidup tersebut bahkan didapat oleh bangsa yang tidak memeluk Agama Islam seperti jepang, Cina, Korea dan sebagainya. Sedangkan negara yang mayoritas Islam seperti Indonesia selalu ‘diuji’ dengan masalah. Sengaja kata ’diuji’ dalam tanda petik sebab tidak yakin diuji bisa saja ditegur karena kita salah memahami konsep Islam. Tuhan telah menuntun kepada umat Islam untuk berpikir dan menggunakan aqal. Namun yang mendapat hikmah dari konsep Islam ini justru bangsa diluar Islam hingga sanggup berpikir dan mengunakan aqal untuk menemukan teknologi mutakhir dalam memudahkan hidup ini.

Pemahaman Agama salah dan menyembah Allah secara salah seperti negara Jepang namun mampu mengangkat derajat bangsanya. Ini karena sebuah penghargaan dan komitmen yang kuat dalam mencintai budaya peninggalan leluhurnya. Hingga dengan percaya diri Jepang menemukan jatidiri dan Purwadaksinya yang pada ahirnya ia menemukan sesuatu pemikiran dari dasar pemikiran leluhurnya yang mengkristal menjadi budaya tersebut. Kristal tersebut otentik bukan hanya sekedar serpihan tradisi yang tidak utuh, seperti yang terjadi dalam pemahaman tradisi di negri kita.

Jika kita tidak mau menyalahkan pemahaman Agama Islam dari para ulama dan Al-Ustad serta tuan guru kita di Indonesia. Berarti kita harus yakin bahwa apa yang diajarkan ulama, ustad, dan tuan guru kita dalam hal Agama Islam adalah benar. Dan kita yakin Agama Islam tersebut adalah yang paling benar dan sempurna menurut Tuhan Semesta Alam ini. Kemudian kita dibekali dengan dua sumber konsep hukum Qur’an dan Hadist. Kemudian Allah berjanji akan memberi petunjuk kepada orang yang bertaqwa.

Kenapa Ulama, ustad dan tuan guru kita yang bertaqwa ini tidak diberi petunjuk oleh Allah? Untuk membangun bangsa dan negara tercinta hingga harus tergantung kepada bangsa asing? Kendati dalam bentuk yang menurut manusia naif adalah benar yaitu investor Asing dan utang luar negri?!!! Kenapa setelah sekian lama kita merdeka kembali kedalam pelukan penjajahan dalam bentuk lain?

Ini sebuah bukti bahwa hanya dengan konsep Agama saja kita tidak akan sanggup membangun moral dan mental yang pada ahirnya kita tidak akan sanggup membangun bangsa dan negara. Ada konsep yang dilupakan pada bangsa kita, adalah pembangunan budaya bangsa. Pembangunan budaya bangsa kita keliru. Ini sudah bisa dipastikan. Karena kita bekas jajahan yang dihancurkan kemerdekaan dan budayanya beberapa abad sebelum berhasil melepaskan diri dari penjajahan. Itupun karena penjajah akan mengubah strategi jajahannya dari jajahan yang berbentuk perampasan hak secara langsung menjadi perampasan hak secara tidak langsung.

Jika kita perhatian bangsa dan negara yang maju dan memiliki harga diri di dunia ini berawal dari penghargaan dan penghayatan secara benar terhadap budaya warisan leluhurnya. Sedangkan bangsa yang hancur dan tidak memiliki harga diri adalah bangsa yang tidak menghargai budaya leluhurnya. Baik itu tidak disengaja atau disengaja oleh strategi bangsa Asing yang ingin menjadikan tanah air bangsa tersebut sebagai negara baru bagi bangsanya. Sebagai contoh Amerika sebelum dikuasi oleh imigran dari Inggris. Bangsa Ingris berupaya menekan dan menghancurkan budaya bangsa kulit hitam penduduk Asli tersebut. Demikian juga bangsa Amborigin di Australia yang terdesak oleh imigran Inggris.

Jika kita tidak mau negara tercinta ini menjadi negara imigran yang besar dan dibesarkan oleh bangsa Asing seperti negara Amerika dan Australia. Maka kita harus sepakat mempertahankan budaya kita. Budaya Indonesia yang berbasis budaya lokal, bukan berbasis budaya Asing. Kenapa hal ini perlu ditekankan? Bangsa Indonesia tidak akan terbentuk tanpa suku bangsa suku bangsa yang tersebar di sepanjang kepulauan Nusantara. Budaya Indonesia juga tidak akan ada tanpa budaya suku bangsa suku bangsa yang terkandung di dalamnya. Jika tiap suku bangsa kuat maka bangsa Indonesia menjadi kuat.

Karena itulah konsep pembangunan budaya bangsa Indonesia beragam dan tidak bisa disentralisasikan. Tidak bisa kita membangun budaya Indonesia sambil menghancurkan dan meniadakan budaya lokal. Karena jika demikian maka kita akan menuju kesebuah titik nadir dan kelemahan. Namun jika masing-masing suku di negera kita kuat maka dengan sendirinya bangsa kita menjadi kuat. Ada kesalahan besar dalam pembangunan budaya bangsa kita yang mengikis budaya lokal. Jika kita tak menyadarinya maka keadaan moral, mental dan pola pikir bangsa kita tidak mungkin bangkit. Kita harus membangun budaya lokal, hingga tiap suku bangsa menjadi kuat. Maka kita akan membentuk rantai yang kuat jika tiap budaya lokal tersebut kuat.

Bagaimana pembangunan budaya yang harus kita tata untuk kemajuan bangsa dan negara kita? Marilah kita ikuti relung tapakur selanjutnya.

II. MAKNA DARI TARUMPAH AMPAL KENCANA

Jika kita perhatikan dengan seksama, maka keaneka ragaman budaya Nusantara tersebut hanya berbeda dalam hal bahasa yang berbeda dalam tiap-tiap sekte budaya yang ada. Namun tujuan dan maksud tersebut sebenarnya memiliki kesamaan. Budaya Nusantara atau budaya tiap sekte di Indonesia memiliki makna yang sama dengan perbedaan tradisi dan bahasa. Untuk dapat melanjutkan penelusuran selanjutnya sebaiknya kita harus mampu memisahkan antara tradisi dan budaya.

Pemahaman umum pada saat ini memiliki anggapan bahwa tradisi dan budaya tersebut adalah sama. Hal ini akan menyesatkan pemahaman budaya Indonesia, sebab kita akan melihat bahwa setiap sekte atau suku bangsa memiliki tradisi yang berbeda. Maka kita akan menyimpulkan bahwa tiap sekte tersebut berbeda. Karena anggapan tersebut akhirnya kita mencari pemahaman budaya Indonesia atau keIndonesian sambil melupakan sukuisme. Dan kecintaan kepada suku atau sekte budaya akan dianggap penghambat dalam pemahaman keIndonesiannya.

Padahal tidak demikian seorang Sunda yang tidak mengenal ‘Kasundaan’ ia akan gagal juga dalam menemukan keIndonesiannya. Dengan demikian primordiar dan kesukuan tersebut sangat baik untuk membangun keIndonesiaan. Sebab tidak akan ada Indonesia tanpa sekte budaya yang terkandung didalamnya. Jika sekte masing-masing budayanya lemah maka keIndonesiaannyapun menjadi lemah.

Tradisi adalah sebuah kebiasaan yang dikerjakan oleh suatu sekte budaya dalam suatu wilayah dan kurun waktu. Tradisi ini akan berubah sesuai dengan perubahan status dan kepribadian bangsa tersebut. Suatu wilayah yang agraris seluruh tradisinya akan berubah setelah sawah dan lahan pertaniannya dijadikan pabrik dan perumahan. Namun perubahan tradisi bertani menjadi pedagang atau pekerja tidak akan merubah budaya daerah tersebut dalam mencari napkah. Budaya akan abadi disuatu tempat kendati tradisinya akan berubah sesuai dengan tuntutan keadaan dan zaman.

Budaya adalah sebuah pola pikir dan upaya manusia untuk mencapai suatu tujuan agar lebih baik dan sempurna. Budaya tersebut akan bersifat kekal dan baqa sampai hari qiamat. Manakala kita mempertahankan sebuah tradisi tanpa mengerti budayanya maka kita akan terlibas oleh zaman. Hingga budaya kita akan tidak relepan dengan zaman. Pengkaburan makna antara tradisi dan budaya ini baik disengaja oleh cendikiawan asing untuk melemahkan pemahaman budaya kita maupun tidak, akibatnya sama yaitu kehancuran budaya bangsa kita yang notabenenya akan menghilangkan jatidiri bangsa kita.

Jika kita mengatakan sebuah kunci budaya misalnya “Cupu Manik Astaghina”. Bukan hanya orang Sunda yang mengenal makna atau kata tersebut melainkan orang Jawa juga, orang Bali juga dan hampir seluruh sekte budaya di Indonesia mengenal kata “Cupu Manik Astaghina”. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya dalam keragaman tradisi sekte budaya suku bangsa di Indonesia memiliki budaya atau maksud yang sama. Begitu pula beberapa tradisi di tiap daerah masih ditemukan kesamaan makna dengan perbedaan bahasa. Misalkan rangkaian upacara pengantin. Semua sekte budaya kita memiliki tradisi dan bahasa yang berbeda dalam hal ini. Namun tujuannya sama agar perkawinan tersebut suci dan sakral serta diridhoi oleh Tuhan semesta Alam.

Kembali kedalam judul buku ini TARUMPAH AMPAL KECANA sebuah budaya yang mungkin tersebar dalam semua sekte budaya di Indoneisa. Dalam hal ini kita akan membahas budaya ini dari versi budaya Sunda. Namun kita yakin kata ‘Tarumpah Ampal Kencana’ terdapat dalam setiap budaya dengan tradisi dan bahasa yang berbeda. Dalam versi budaya Sunda Tarumpah Ampal Kencana ini merupakan Pusaka anugrah dari Dewa yang diberikan kepada Gatotkaca untuk melawan buta yang merusak Sawarga bernama Naga Percona.

Jika Tarumpah Ampal Kencana hanya dipahami sebagai Pusaka yang dimiliki oleh raden Gatotkaca sebagaimana terlukis dalam cerita wayang umumnya di Indonesia khususnya dalam budaya Sunda. Maka hal tersebut tidak akan bermanfaat bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara. Sastra tersebut adalah bahasa. Jadi sangat keliru jika hal yang berasal dari sastra diartikan menjadi benda.

Umumnya orang mengkaitkan sastra dengan benda Pusaka padahal sastra adalah bahasa Pusaka. Hal ini akan menuntun jiwa manusa kepada kemusrikan dan ketahayulan. Apalagi dikaitkan dengan peninggalan yang berupa tapak kaki seperti di Batu Tulis Bogor bahkan ada peninggalan tapak kaki Nabi Muhammad yang tersimpan dalam musium Islam. Maka bangsa kita juga terpengaruh hingga menganggap bahwa Tarumpah Ampal Kencana ini berupa barang yang berbentuk alas kaki. Sebab pengertian Tarumpah dalam bahasa Sunda berarti alas kaki.

Satra berupa Pusaka Bahasa dalam hal ini apapun yang kita dapatkan dalam kitab sastra manapun tidak boleh selalu diwujudkan dalam bentuk benda. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Tarumpah Ampal Kencana ini? Marilah kita lihat Pusaka ini dalam bentuk Pusaka bahasa sebagai berikut

· Tarumpah => berarti alas kaki. Yang dinamakan alas kaki pasti sepasang kanan dan kiri. Kendati alas kaki yang kanan dan kiri tersebut seukuran dan nampak sama. Namun tidak bisa tertukar. Alas kaki bagian kanan tidak bisa tertukar atau dipakai oleh kaki kiri.

· Ampal => berasal dari kata dampal. Artinya pijakan hidup. Tentu saja yang namanya alas kaki tempat pijakan dan melindungi kaki dari hal-hal yang tidak dinginkan.

· Kencana => artinya emas atu hal yang mulia. Sebuah tujuan hidup kita adalah menuju hal yang baik dan sempurna.

Dengan demikian ‘Tarumpah Ampal Kencana” mengandung pengertian sebuah pijakan hidup, atau rel hidup yang berguna untuk menyelamatkan langkah hidup agar dapat menuju kepada tujuan yang sempurna.

Leluhur kita dalam budaya Sunda memberikan gambaran bahwa bila kita ingin mengalahkan Naga Pershona atau sifat hewan yang melilit jiwa kita maka kita harus memiliki dua rel atau sepasang alas kaki. Maka digambarkan dalam budaya Sunda tersebut Tarumpah Ampal Kencana. Apa rel hidup atau pijakan hidup kita di dunia ini?

Pertama akal dan pikiran manusia. Yang kedua hati dan perasaan manusia. Akal dan pikiran manusia tersebut berkembang pada ahirnya lahirlah sebuah konsep hidup yang bersumber kepada akal dan pemikiran manusia (Budaya). Hati sanubari kita berkembang dengan petunjuk dari penciptanya. Maka pada ahirnya berbentuk Agama. Agama dan budaya inilah yang harus menjadi rel pijakan kita yang tidak bisa saling meniadakan satu sama lainnya. Kita harus yakin bahwa kendati mirip antara Agama dan Budaya tersebut adalah sebuah hal yang berbeda.

Artinya jika kita mempelajari Agama Islam beserta budaya Arabnya. Hal ini akan menisbahkan dan melemahkan budaya Sunda. Dan meskipun nampak sama budaya Arab tidak sama dengan budaya Sunda. Yang terjadi dalam upaya pembentukan moral dan metal melalui Agama di negara kita adalah dengan menghancurkan budaya Lokal dan menggantikannya dengan budaya Arab. Kita yakin budaya Arab hanya baik untuk bangsa Arab. Dan jika budaya Arab dipaksakan kepada bangsa lain maka sudah dapat dikatakan bahwa karakter bangsa tersebut ikut terlibas dan hancur. Hingga Agama Islam tidak berpengaruh sama sekali dalam pembentukan moral dan mental bangsa.

Karena itulah Nabi Muhammad memberikan sebuah peringatan kepada kita “……Carilah Ilmu kendati ke bangsa Cina……….”. Kita lebih suka menerjemahkan dengan kata bangsa bukan negri. Karena konotasi negri adalah benda atau tempat. Sedangkan kebiasaan belajar tersebut kepada orang atau guru. Atau bisa juga diartikan bahwa kita belajar secara tidak langsung dari bangsa Cina tersebut.

Kenapa kita harus belajar ke negri Cina? Ada apa kekuatan atau hal yang baik dari negri Cina ini sehingga harus dijadikan sumber inpirasi dalam belajar?

Banyak orang yang mentapsirkan negri Cina dengan sifat bendawi. Mereka mengatakan katanya kebudayaan Cina sudah lebih maju dari Arab karena Cina sudah mengenal keramik? Hal ini menjadi tidak masuk akal karena di Arab juga budaya keramik sudah berkembang. Cina memiliki hurup atau sudah bisa menulis? Bangsa Arab juga sudah mengenal tulisan. Hendaklah kita jangan melihat pandangan hidup yang bersifat bendawi saja.

Cina sebuah bangsa yang tidak mengenal Allah dan tidak mau berganti Tuhan Kepada Allah. Ia terkenal dengan kelompok Shabiin atau penyembah Dewa dan Dewi. Ia tidak mau merubah keyakinan dalam hal Agama dengan kata yang ekstrim Cina adalah negri yang kafir.

Namun kenapa kita harus belajar dari orang kafir? Ada kekuatan yang bisa kita teladani dalam sikaf hidup orang Cina. Ia sangat menghormati budaya leluhurnya. Kekuatan dalam hal budaya inilah yang pada ahirnya bangsa Cina bisa membangun jatidiri dan kepercayaan dirinya hingga bangsa Cina hidup mandiri tanpa harus tergantung kepada bangsa Asing. Hal ini dapat kita lihat  perkembangan teknologi di Cina. Kendati ia terlambat, namun mampu menghasilkan teknologi yang bisa dihasilkan oleh bangsa Asing. Kendati dengan cara menjiplak.

Dan kendati kwalitas teknologi Cina tersebut jauh dibawah Jepang. Produksinya dipakai dan dipaksakan dipasarkan dengan berbagai trik pemasaran oleh bangsa Cina yang tersebar hampir diseluruh dunia ini. Bangsa Cina yang mengembara menjadi imigran ke negara lain masih memiliki hubungan dengan budaya leluhurnya. Ia dengan konsisten masih memelihara budaya leluhurnya. Kita lihat saja hampir semua kuburan orang Cina tertoreh tulisan Cina. Sedangkan di kuburan orang Indonesia umunya Sunda Khususnya tertoreh hurup dari kebudayaan Asing Yunani (latin) dan Arab.

Bahkan ada seorang Cina di Pasundan yang merasa sudah menjadi orang Sunda dan mampu berkesenian dalam budaya Sunda. Kemudian ia juga mendirikan perkumpulan lingkung seni Sunda. Dalam pandel lingkung seninya masih tertoreh hurup Cina. Seolah olah ingin mempertahankan eksistensi dirinya sebagai manusia Cina. Hal inilah yang dianggap baik oleh orang yang leluhurnya dilahirkan di negri Cina. Hingga Nabi mengisyaratkan kepada kaumnya bahwa ikuti atau belajar dari bangsa Cina. Bahwa konsep Agama Islam jangan sampai menghancurkan dan meniadakan eksistensi anda sebagai bangsa Sunda atau sebagai bangsa Indonesia. Hingga merubah penampilan dan kebudayaan anda sebagaimana orang Arab.

Agama Islam bukan budaya Arab. Kemiripan Agama Islam dengan budaya Arab karena ia dilahirkan di tanah Arab, namun kita harus mampu membedakan mana Agama Islam dengan budaya Arab. Sebagimana kita membedakan antara sandal kiri dan sandal kanan. Konsep Agama Islam kita ambil dan budaya Arabnya tidak baik untuk bangsa kita. Kita harus tetap memelihara eksistensi kita selaku orang Sunda, tanpa harus terpengaruh budaya Asing, kendati itu budaya Arab dimana Islam lahir disana.

Agama adalah sebuah konsep dasar, pedoman dasar bagi seluruh manusia. Dan Tuhan Maha Tahu bahwa setiap bangsa memiliki karakter dan budaya yang berbeda karena itulah maka dalam Agama Islam tersebut terakomodir seluruh budaya yang mewakili budaya Manusia sejagat ini. Dan Allah tidak membenarkan Agama melemahkan budaya, dengan bukti Allah mengangkat bangsa yang diluar Agama Islam karena ia berpegang teguh pada budaya leluhurnya.

Dalam ayat Qur’an memang ada sebuah sindiran yang biasanya dipakai oleh ulama yang tidak paham permasalahan secara menyeluruh tentang budaya dan Agama. “…..Kami hanya akan mengikuti apa yang telah dilakukan oleh leluhur kami…….” sebuah keyakinan dari orang kafir atau munafik. Kemudian Allah menjawab, “…..Apakah kamu tetap akan mengikut leluhurmu kendati kau tahu bahwa leluhurmu salah?…”

Sebuah bahan tapakur yang baik dari Allah. Kemudian kita berpikir. Apakah leluhur Sunda Salah? Dalam menyusun sebuah konsep budayanya? Dan bagaimana jika leluhur tersebut memiliki konsep yang sama dengan Agama Islam? Namun tradisi dan bahasanya saja yang berbeda. Apakah kita tetap akan menyalahkan budaya Sunda dan menggantikannya dengan budaya Arab?

Inilah kelemahan sekte atau suku bangsa Indonesia yaitu manusia Sunda. Hingga karena terlalu banyak suku bangsa Indonesia yang telah malu dan sengaja atau tidak sengaja menggantikan budaya leluhur dengan budaya Asing, tanpa memilih dan memilah hal yang baik dan buruk dari budaya tersebut. Dianggap apa yang terdapat dalam budaya tersebut adalah sebuah kesesatan yang nyata yang tidak boleh diikuti. Maka bangsa Indonesia secara keseluruhan eksistensinya juga lemah.

Kelemahan eksistensi ini terlukis dari kelemahan moral dan mental bangsa kita. Hingga tergantung kepada bangsa Asing dan merasa terhormat dengan menggantungkan diri kepada bangsa Asing dengan alasan yang wajar investor, tenaga ahli dan utang luar negri. Memberi kesempatan kepada bangsa Asing berusaha di Indonesia dengan alasan untuk membuka lapangan kerja. Padahal jika lahan pertanian yang subur, sawah yang subur tidak dirubah dengan sistemik menjadi pabrik dan perumahan. Alam telah menyediakan lapangan kerja yang baik bagi rakyat kita.

Mengutip sindiran Qur’an “…….Apakah kamu masih ingin mengikuti leluhur kendati mereka berada dalam kesesatan……”. Kemudian kita memahami bahwa salah satu konsep dari budaya Sunda atau boleh dikatakan budaya Indonesia karena ‘Tarumpah Apal Kencana’ ini juga tersebut dalam budaya Bali, Jawa dan suku lain di Indonesia. Sebagaimana telah kita bahas bahwa manusia harus memiliki dua titian hidup. Yang satu petunjuk Illahi (Agama) dan yang lain hasil dari pemikiran manusia (budaya).

Apakah konsep budaya leluhur kita ini akan dianggap salah? Kendati banyak bukti bahwa bangsa yang memegang teguh budaya leluhurnya diangkat derajat hidupnya oleh Allah?

Kita tidak termasuk yang disindir oleh Qur’an jika kita memegang teguh budaya leluhur kita. Karena budaya leluhur kita tersebut tidak salah dan tidak sesat. Tarumpah ampal kencana dua rel hidup manusia antara kiri dan kanan yang harus seimbang. Budaya dan Agama suatu hal yang sama penting. Budaya bagi pembangunan moral dan mental bangsa. Sedangkan Agama mengembangkan konsep spritual kita. Tentu antara moral dan spritual sangat berbeda. Dan kita dapat menarik kesimpulan bahwa Agama melindungi spritual kita atau kaki kanan kita. Sedangkan budaya melindungi moral dan mental kita atau kaki kiri kita.

Tidak berpengaruh sama sekali Agama kepada pengebamngan moral dan mental. Hal ini dengan terbukti bahwa banyak para ulama dan tuan guru kita yang terlibat dan terlibas dalam korupsi, serta penyimpangan prilaku lainnya. Dan atau pembiaran kepada para koruptor yang mereka ketahuinya. Hingga keadaan bangsa dan negara kita terpuruk serta bermasalah.

Ada dua kesimpulan pengaruh Agama dan Budaya. Pengaruh Agama tidak signifikan terhadap pembangunan moral dan mental, meskipun Agama tersebut Islam. Dan pengaruh budaya tida signifikan terhadap pembangunan spiritual. Kendati hal itu budaya Sunda. Jadi Agama tanpa budaya akan tersesat dengan dunia fana karena guncangan moral dan mental yang tidak kokoh. Demikian pula Budaya tanpa Agama akan tersesat dalam dunia spiritual atau kebaqaan (keIlahian).

Banyak orang Sunda yang ahli dalam Agama namun tidak memahami budaya Sunda. Bahkan menganggap budaya Sunda sebuah kemusrikan dan ketahayulan. Ternyata tidak memiliki konsep untuk membangun tanah air (sarakan) sendiri. Hingga membiarkan pembangunan Jawa Barat dikuasai oleh investor, tenaga ahli,  bangsa Asing tanpa sebuah strategi untuk bisa lepas mandiri dengan membina secara bertahap kepada putra Sunda untuk menggantikan para pengusaha dan investor serta bangsa Asing dalam membangun tanah airnya sendiri. Bahkan dalam pemilu ulama dan tuan guru membiarkan orang Sunda diwakili oleh orang di luar suku Sunda.

Banyak ahli budaya Sunda yang sadar kepada budayanya tanpa sebuah bimbingan Agama yang benar. Ia memjadi ahli supranatural dan keliru dalam hal spiritualnya. Hingga ia bisa bersikaf baik untuk dirinya sendiri, namun cenderung pasip dalam manangani permasalahan sosial. Ia hanya akan membantu individu yang berkonsultasi secara langsung tidak proaktif dan memiliki strategi yang baik dalam menyelesaiakan permasalahan sosial.

Hal yang menarik dari pengamatan saya.

· Budayawan => yang benar dan tumbuh menjadi ahli supranatural. Moral dan mentalnya akan baik. Ia tidak terjerumus dengan penyakit moral dan mental. Dapat menahan diri dari kelemahan mental dalam tiga penyakit manusia. Yaitu Tahta, harta dan sex.

Namun perjalanan spritualnya selalu keliru.   Tidak sesuai dengan tuntunan Agama yang benar   Islam. Kekeliruan ini akibat tidak ada suri   tauladan dari ulama yang menyatakan diri lebih   paham tentang Agama Islam. Hingga ia mencari   jalan sendiri diluar konsep yang dipahami oleh   para ulama.

· Agamawan => Sudah diyakini benar sebab mereka memiliki pondok pesantren dan potensi kepercayaan untuk memobilisasi umat kepada kekuatan baik sumber dana melalui konsep zakat, atupun sumber daya dengan kesetiaan umat kepada fatwanya. Namun ternyata banyak yang tergelincir karena kelemahan moral dan mental. Bahkan sekaliber AA Gym saja, ia pernah tergelincir dengan pantat Jahe, janda cantik dan kaya. Belum lagi banyak ulama yang ikut terlibat dan terlibas korupsi.

Atau ulama yang mengadakan pemberan kepada   pelanggaran norma Agama padahal ia   berkemampuan untuk berbicara dan merubahnya.   Dan mereka tidak berupaya secara maksimal   dalam pencegahan perbuatan yang menodai    kesucian beragama. Termasuk ketergantungan   bangsa kita kepada bangsa Asing.

Inilah sebuah bukti bahwa pemahaman Agama yang tidak disertai budaya akan memiliki kelemahan dalam hal moral dan mental. Kemudian pemahaman budaya yang tidak disertai oleh pemahaman agama yang benar akan memiliki kelemahan di bidang spiritual.

Agama dan budaya sebuah pemahaman yang mutlak harus diupayakan dan dibina secara bersamaan. Bagi orang Sunda pemahaman konsep Agama Islam yang benar hanya akan bermanfaat jika disertai dengan pemahaman budaya Sunda dengan benar. Moral dan mentalitas orang Sunda tidak akan terbangun dengan baik oleh budaya Arab. Dan Islam sama sekali tidak bertanggungjawab terhadap pembentukan moral dan mental. Islam hanya bertanggungjawab terhadap pembentukan spiritual (KeIllahian).

Hal tersebut diatas dilukiskan dalam konsep budaya Sunda dengan istilah “Pusaka Tarumpah Ampal Kencana”. Dua rel yang tidak bisa dipisahkan untuk menentukan arah manusia dalam membangun bangsa dan negara. Apakah konsep budaya ini salah hingga banyak ulama yang membuang konsep ini dan menggantikan dengan konsep dari budaya Arab. Nilai dan makna Tarumpah ampal kencana ini terkandung dalam Agama Islam. Namun jika yang baik dan dibenarkan oleh Agama Islam ini ditiadakan dari jiwa Sunda. Mereka akan menganggap hal ini adalah baru dipelajari setelah mengenal Islam. Karena baru dipelajari ahirnya belum dilaksanakan.

Bagaimana kita mencari jatidiri Purwadaksi bangsa melalui budaya?

Dalam pencarian budaya bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari eksistensi budaya lokal. Bila budaya Nasional kita diambil dari budaya Asing maka kita salah dalam kebijakan pembangunan budaya ini. Dan kesalahan pembangunan budaya ini harus ditebus dengan harga yang cukup mahal yaitu kesulitan dalam menata pembangunan bangsa secara mandiri.

Pada dasarnya unsur budaya tersebut ada tiga yaitu   :

1. Seni   => Merupakan ekpresi jiwa dan pikiran, yang terealisasi  menjadi seni suara, seni gerak,  dengan berbagai pariasi.

2. Sastra => merupakan ekpresi jiwa dan pikiran dalam bentuk bahasa. Termasuk teoritis ilmu pengetahuan dan filsafat kita golongan dalam sastra atau tulisan.

3. Rupa => ekpresi jiwa dan pikiran yang diwujudkan dalam bentuk benda. Pahat, ukir dan lukis. Termasuk teknologi dan alat-alat untuk mempermudah proses kerja termasuk dalam budaya di bidang ini.

Kebiasaan-kebiasaan yang mengkrital menjadi tradisi juga tidak lepas dari  bentuk tersebut. Berbentuk gerak, suara, tulisan, torehan dan benda. Itulah wujud budaya yang pada awalnya bersifat ghaib dari alam pemikiran manusia. Dari peradaban manusia Purba sampai manusia modern bahkan ahir zaman, wujud budaya akan tetap seperti itu. Perubahannya adalah sebuah dinamika dari pertanda perkembangan budi dan daya pikiran manusia.

Sebagai contoh lambang hurup awalnya mungkin ditorehkan ditanah, kemudian batu, daun lontar, tulang, keretas kemudian berubah menjadi alat komunikasi dan publikasi yang canggih hingga komputer internet dan masih terus akan berkembang sesuai dengan perkembangan kecerdasan manusia. Sampai dimanapun hal tersebut berawal dari sebuah torehan simbol atau tanda-tanda untuk komunikasi primitif. Manusia secara intelektual akan semakin cerdas dalam menjawab tantangan hidupnya. Namun moral dan mentalnya mengalami pasang surut.

Kenapa kita berbicara budaya secara garis besar? Hal ini untuk mempermudah dalam pencarian bentuk budaya bangsa kita. Jika kita ingin mengembangkan budaya bangsa kita maka kita harus merunut dari awal. Apakah kita masih sejalur dengan budaya leluhur? Atau sudah terlepas dari budaya leluhur kita? Jika kita masih sejalur berarti akar budaya bangsa kita masih kuat dan kita ada harapan untuk bisa membangun bangsa secara mandiri. Namun bila tidak sejalur lagi dengan konsep budaya leluhur jangan harap kita akan dapat mempertahankan eksistensi jatidiri bangsa kita.

Bila anda masih ragu akan kebenaran bahwa budaya lebih signifikan dalam mempengaruhi moral dan mental kepada jiwa terutama jiwa generasi dari pada Agama. Kita lihat contoh kasus lebih berpengaruh mana antara ceramah dari Ulama kondang dan Sinetron artis kondang kepada jiwa generasi?

Bagaimana bangsa kita saat ini sudah berakar pada leluhur dalam berbudaya? Untuk mepersingkat kita hanya akan membahas musik saja pada kesempatan ini. Dengan sebuah awal tapakur atau pertanyaan.

Musik bagaimana yang sesuai dengan budaya leluhur kita?

III. MAKNA  SENI

DALAM PEMAHAAN BUDAYA

Orang boleh berpikir berbeda, namun perbedaan tersebut harus memiliki batas dan cara pandang yang jelas. Jika kita memahami seni dari sisi tradisi, akan berbeda dengan pemahaman sisi dari sisi hiburan, komersial, pelampiasan dan emosional. Pada kesempatan ini kita akan memahami seni dalam konsep budaya. Tiap bangsa dan suku bangsa memiliki konsep budaya yang berbeda. Namun dalam bangsa serumpun seperti kepulauan Nusantara, perbedaan tersebut hanya karena jeda kondisional dan jarak. Secara esensi budayanya sama.

Untuk memberikan pemahaman yang sama maka pada kesempatan ini saya akan melihat pitur seni dari sisi pandang budaya. Agar dipahami dengan benar tulisan ini maka kami mohon untuk meninggalakan pungsi seni yang beragam berdasarkan pemahaman dan sudut pandang yang berbeda. Kendati kita belum sanggup melakukan hal yang benar bukan berarti kita harus mencari pembenaran hal yang salah. Inilah yang harus kita pahami sebelum melanjutkan menelusuri relung tapakur pada saat ini.

Sifat legowo dan tahu diri perlu kita kembangkan dalam mencari jati diri bangsa pada saat ini. Dalam arti kita harus mampu mengakui kelemahan jiwa dan pemikiran kita atau kekuatan moral dan mental kita belum sanggup melakukan hal yang baik dan sempurna. Namun ketidak mampuan kita tersebut bukan berarti kita harus mengikis dan menenggelamkan hal-hal yang baik dan sempurna yang telah dikonsep oleh leluhur kita melalui budaya peninggalannya. Kita juga yakin leluhur kita meninggalkan konsep budaya tersebut bukan berarti hal-hal yang terlukis dan tersirat dalam budaya tersebut sudah dilakukan dan dilaksanakan oleh leluhur kita. Mungkin konsep budaya tersebut baru menjadi wacana dalam kehidupan dan zaman leluhur kita masa lalu. Namun hal yang belum mampu ia lakukan tersebut tetap dipelihara dengan harapan anak cucunya mampu merealisasikan konsep tersebut.

Konsep budaya yang belum mampu mereka jabarkan dan realisasikan dalam prilaku pribadi berbangsa dan bernegara tersebut ditandai oleh para leluhur kita dengan kata ‘Pusaka’. Ada yang berbentuk benda, ada yang berbentuk bahasa, ada yang berbentuk rupa dan warna ada juga yang berbentuk gerak tubuh atau isyarat. Dalam Agama kata Pusaka ini identik dengan ibadah. Kita juga sering melakukan sebuah ritual ibadah meskipun kita belum mengerti hakekat dan tujuan peribadahan tersebut. Apa maksud Allah menyuruh kita melakukan peribadahan tersebut. Demikian juga dalam konsep budaya leluhur kita tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Pusaka tersebut.

Harapan leluhur kita suatu saat anak cucunya mengerti kata pusaka tersebut kemudian diambil manfaatnya dalam kehidupan pribadi berbangsa dan bernegara ini. Demikian juga dalam hal ibadah, Allah menghendaki suatu saat manusia mengerti bahwa ritual ibadah tersebut dapat direalisasikan untuk kebahagian manusia di dunia bahkan sampai hari akhir kelak. Demikianlah gambaran yang harus kita pahami sehingga Allah menurunkan konsepnya secara bertahap melalui dua puluh lima generasi. Dua puluh lima Rasullnya, sebuah perjalanan konsep yang panjang yang harus kita yakini kebenarannya meskipun kita belum mengerti maknanya. Konsep budaya dari leluhur juga sama. Kita perlu sebuah keyakinan kepada kebenarannya meskipun belum mengerti maknanya.

Sampai kapan hal tersebut harus kita pegang dan pertahankan?

Sampai ada anak cucu leluhur yang mampu mengaplikasikan Pusaka termasuk seni tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sampai ada manusia yang memahami konsep ibadah dan merealisasikannya dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Salah satu contoh dalam kisah atau sastra Islam. Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya. Ibrahim mengasumsikan bahwa anaknya tersebut harus disembelih secara pisik. Namun Allah memperjelas perintah tersebut dengan bentuk Gibas atau hewan sembelihan. Ritual tersebut dipelihara sampai sekarang dalam ibadah Qur’ban. Agar sampai hari qiamat manusia tidak lupa terhadap kesalahan Ibramim.

Apa kesalahan Nabi Ibrahim tersebut? Ia mengasumsikan mimpi dengan kenyataan tanpa sebuah pemikiran aqal yang sehat. Padahal perintah penyembelihan tersebut mungkin bukan pisik namun sebuah konsep bahwa kewajiban seorang ayah tersebut adalah membunuh dan menyembelih sifat hewan yang ada pada jiwa anaknya. Hingga nilai tukar dari Allah tersebut adalah Gibas (hewan) bukan tumbuhan. Hal ini dalam konsep budaya Sunda sama digambrakan dalam sebuah cerita sastra wayang purwa digambarkan dengan pemotongan tali ari-ari Purabaya yang sangat sulit dan berat. Gambaran bahwa untuk memisahkan sifat hewan pada jiwa manusia tersebut sangat sulit dan berat.

Karena ada kesesuaian inilah maka konsep Agama bagaikan tarumpah kanan dan Budaya bagai tarumpah kiri. Yang harus dipakai bersamaan tidak bisa hanya dipakai sebelah atau yang kanan di kedua belah kaki kita. Hal ini digambarkan dalam budaya dalam sebuah konsep “Tarumpah Ampal Kencana”.

Bagaimana konsep Seni dalam budaya Sunda?

· Menggambarkan yang belum jelas => banyak ihwal yang belum jelas dan tidak akan jelas selamanya dalam kehidupan manusia seperti konsep keberadaan hal yang ghaib hingga konsep keberadaan dan eksistensi Tuhan. Konsep ini akan tetap ghaib sampai hari ahir. Dan hal yang ghaib tidak mungkin menjadi jelas.

Dalam penjelasan hal yang seperti ini perlu sebuah   seni dalam pemahaman budaya. Jadi pertama seni   adalah berpungsi untuk menggambarkan sebuah   konsep   yang belum jelas dan tidak bisa   dijelaskan secara   ilmiah maupun alamiah.

· Manggambarkan sebuah hasil tapakur => hasil tapakur seseorang perlu dikabarkan kepada orang lain agar dimengerti dan dipahami. Terkadang alam tapakur tersebut bisa saja terjadi pada jiwa yang dianggap lemah dalam kelompok manusia misalnya rakyat jelata. Bagaimana seorang rakyat jelata menyampaikan hasil tapakurnya kepada Raja? Maka disinilah pungsi seni untuk menjelaskan hasil pemikiran kepada para ahli pikir lain tanpa harus menyinggung emosional mereka.

· Sebagai wahana perjuangan sosialisasi konsep => Dalam konsep budaya Sunda ada yang disebut Baduga. Orang awam mengartikan baduga tersebut gelar seorang raja. Namun sebenarnya suatu konsep yang kontropersi dalam arti bertentangan dengan kebiasaan atau tradisi di masyarakat dan belum logis bagi kebanyakan masyarakan sunda pada saat itu. Karena bertentangan maka konsep tersebut cenderung menyinggung emosi (ngabadug) para ahli dan tokoh masyarakat yang tidak mau berubah sikap dan pemikiran.

Karena itulah konsep tersebut disosialisaikan   melalui karya seni. Sehingga mereka yang   tersindir bisa berpikir dan sedikit demi sedikit   mengakui kebenaran konsep tersebut. Dengan   tidak terasa maka tradisi yang buruk tersebut   bisa berubah, setelah opini publik berubah.

Penebaran konsep ini jika melalui karya seni   sastra memiliki nama sendiri yaitu   “RAWERUNTIK”   RA => Cahaya. WE =>   wejangan atau petuah.   RUNTIK => artinya   menyinggung perasaan orang   lain. Konsep inilah   yang selanjutnya menjadi   dasar pemikiran   seni journalistik atau layang   sabda. Begitu   penting konsep pemikiran leluhur   kita dalam   budayanya. Hingga sungguh sangat   mengherankan jika ada orang Sunda atau orang   Indonesia yang berpaling dan beralih berusaha   memahami budaya Asing sambil menutup mata   kepada budayanya sendiri.

· Sebagai Du’a bagi orang atau kelompok yang tertindas => jika tidak diramu melalui seni ha ini akan berwujud kekerasan atau terorisme. Salah satu contoh adalah leluhur orang Subang yang menggambarkan kendati ia tunduk dan taat serta beramai-ramai mengikuti para penjajah Belanda dengan menari dan mengusung Belanda dalam bentuk sisingaan, namun mereka ber’dua dan memiliki harapan kelak generasinya menunggang atau mengendalikan penjajah tersebut.

Banyak karya seni yang maksudnya adalah   perwujudan harapan dan du’a atas kehendak yang   sulit diwujudkan karena situasi dan kondisi   tertentu. Demikian juga dalam pagelaran Wayang   Golek Purwa Sunda. Yang dengan sengaja wajah   wayang golek tersebut membelakangi penonton.   Dibelakang kepala wayang tersebut tergambar   gambar Garuda yang siap mematuk para   pemimpin dan tokoh masyarakat yang pada saat   itu sebagai antek Belanda dan Penjajah. Saat ini   merupakan perlawanan atas kemunafikan dan   kedzaliman para pemimpin yang merasa benar   berlindung dalam undang-undang yang dibuatnya   sendiri.

· Menyatukan sebuah presepsi dan pemikiran => manusia memiliki berbagai kehendak dan cara untuk mencapai kehendak (pemikiran). Dalam hal yang menyangkut kepentingan pribadi berbeda cara pandang tersebut bisa dianggap wajar. Namun budaya kita memiliki sebuah konsep dalam hal kepentingan umat, bangsa dan negara. Kita harus memiliki pemikiran dan cara pandang yang sama. Konsep tersebut juga disampaikan dalam bentuk seni.

· Sarana pendidikan Masyarakat => tontonan kudu jadi tuntunan. Santri didik di pesantren, siswa didik di Padepokan. Dimana masyarakat didik? Solusinya adalah dalam Pagelaran seni, tontonan sekaligus menjadi tuntunan bagi masyarakat.

Begitu besar pengaruh seni dalan jiwa masyarakat.   Segala prilaku penyimpangan budaya dan Agama   pada saat ini baik oleh generasi muda atau oleh   generasi tua yang lemah moral dan mentalnya   berawal dari sinetron atau penampilan group   musik yang menjadi paporit dan pujaannya. Dari   mulai trendy berpakaian, berpoya-poya, minuman   keras bahkan sex bebas. Berawal dari pertunjukan   seni. Kendati seniman yang tidak   bertanggungjawab berkilah jelek jangan ditiru.   Namun konsep dasarnya seni untuk ditiru maka   hal yang jelek tersebut adalah hal yang paling    mudah   untuk ditiru.

· Seni sebagai Kritik sosial => Siapa yang mengingatkan pemimpin jika ia memiliki kebijakan yang salah? Dewan kehormatan yang dibentuk oleh kalangan mereka dalam konsep budaya Sunda tidak pantas. Seharusnya ada team independen dalam mengkritisi kebijakan pemerintah. Disinilah seniman dan budayawan berkiprah.

Karena itulah masa lalu seniman mendapat tempat   yang dekat dengan bangsawan kendati bukan dari   golongan bangsawan. Dalam budaya Sunda   memiliki gelar ‘Emang’. Gelar ini gelar   penghormatan bagi para seniman dan budayawan   dalam konsep budaya Sunda. Mereka bertugas   memberikan konsultasi dan masukan kepada raja   baik diminta ataupun tidak diminta untuk   kepentingan bangsa dan negara. Melalui karya seni   dan satranya.

· Seni sebagai pengendali emosional => Ada aturan tidak tertulis dalam dunia seni. Sebagai latihan pengendali emosional. Kita tidak boleh marah ataupun berbuat keributan saat menyaksikan pertunjukan seni. Kita menikmati kritik dan apa yang didapat dalam seni dengan jiwa yang terbuka. Begitulah karakter dalam konsep budaya Sunda. Seharusnya kita mengembalikan seni kedalam proporsi budaya yang benar.

· Seni sebagai inpirasi perjalanan spiritual => Seni juga merupakan sumber inspirasi dan mata air yang tidak pernah kering untuk menyelami kerinduan manusia kepada sang Khalik (keIllahian).

Kendati seni tersebut memiliki aspek relaksasi dan menghibur. Kita harus ingat bahwa seni tida selayaknya dipakai untuk hiburan hingga melupakan tugas dan kewajiban hidup kita sebagai hamba yang sekaligus menjadi khalifah di muka bumi ini. Seni sangat berpengaruh dalam prilaku dan kehidupan manusia. Jika kita mencintai dan menyukai sebuah seni maka kita memiliki konsekwensi akan memiliki karakter yang sesuai dengan karakter seni tersebut.

Saat ini banyak orang yang mengelak bahwa seni tersebut tidak berpengaruh terhadap pembentukan moral, mental dan karakter seseorang. Namun kenyataan kita menyaksikan bahwa hanya penonton seni tertentu saja yang larut dengan alkohol dan lupa diri saat ia menikmati seninya. Hanya seni tertentu yang membuat pemainnya lupa diri (kesurupan). Dan hanya seni tertentu yang penontonnya mabuk minuman keras. Saat kita merasa terhibur dengan seni sebenarnya bukan seni tersebut mampu menghibur kita namun karakter jiwa kita telah selaras atau sesuai dengan karakter seni tersebut.

Jadi seni mampu menghibur jiwa kita manakala jiwa kita sudah sesuai dengan karakter seni tersebut. Dan manakala kita tidak menyukai seni tersebut maka kita belum memiliki keselarasan dengan karakter seni tersebut. Jiwa manusia tidak keras membantu. Meskipun pada awalnya kita tidak menyukai sejenis seni  jika terus menerus berinteraksi dan berapresiasi dengan jenis seni dan musik tertentu maka akhirnya menjadi senang terhadap musik atau seni tersebut. Saat kita mulai senang dengan seni atau musik tersebut maka pada saat itu karakter jiwa kita sudah selaras dengan karakter seni tersebut.

Jadi kitalah yang menentukan pembentukan karakter kita melalui seni tersebut. Banyak orang berpendapat bahwa pengaruh seni atau musik tersebut pada syair, hingga kita merasa Islami manakala mendengar syair yang Islami padahal musiknya sejenis dangdut. Syair tidak berpengaruh pada jiwa kita. Syair berpengaruh pada pemikiran. Karakter jiwa mansia lebih ditentukan dengan musik bukan syair dalam lagu tersebut. Bisa saja musik dengan karakter jelek memiliki syair yang bagus dan Islami. Namun kita harus menyadari bukan syair yang mempengaruhi karakter jiwa kita melainkan nada atau musik.

Musik bagaimana yang sesui untuk pembentukan karakter bangsa kita?

Hal ini penting disadari oleh bangsa kita. Kendati jenis musik yang akan kita temukan sebagai karakter bangsa kita ini tidak kita sukai. Namun ketidak sukaan bangsa kita terhadap musik yang merupakan karakter bangsa kita ini berakibat buruk dalam menelusuri pencarian jatidiri bangsa tersebut. Jika kita menyadari musik pembentuk karakter bangsa, maka sebaiknya kita berapresiasi dengan musik tersebut hingga kita nyaman dengan musik pembentukan karakter bangsa agar terjadi sebuah pribadi yang sesuai dengan karakter dasar kita.

Di dunia ini, musik terbagi dua jenis, dengan ditandai oleh tangganada. Dengan jumlah tangganada tujuh (diatonis) dan dengan tangganada lima (Karawitan). Kemudian kita teliti musik yang eksis dalam budaya lokal sukubangsa kita. Jawa, Sunda dan Bali yang merupakan suku banyak terproduktif dalam hal kesenian. Tidak bisa dipungkiri jika musik daerah tersebut memiliki tangga nada karawitan. Jika melihat hal ini jelas Purwadaksi bangsa kita hanya bisa dibentuk dengan Karawitan. Tidak dengan musik apapun jenisnya.

Apakah pengaruh musik jelek?

Saya tidak akan menjawab hal tersebut pada kesempatan ini namun akan saya sampaikan kenyataan sejarah yang kita alami sebagai bahan tapakur meskipun mungkin pada saat itu kita masih kecil bahkan belum lahir.

Tahun 1970an mentalitas masyarakat kota Bandung masih cukup baik tidak seperti sekarang ini. Persatuan masih terasa, tetangga masih bisa dijadikan tumpuan hidup hingga untuk makan masih bisa minta ke tetangga tidak perlu ngutang ke warung. Terlepas dari faktor lain keadaan pada saat itu sebagai berikut  :

· Sekolah masih idialis => masyarakat berebut ke negri karena satu hal negri pada saat itu sangat murah biayanya. Hingga jikapun ditambah dengan uang Suap yang pada saat itu berkisar Rp. 50.000,- masih jauh lebih murah negri. SPP satu bulan di Swasta identik dengan SPP satu tahun di negri.

Saat ini masyarakat berebut ke negri hanya karena   gengsi anaknya ingin dikatakan pandai. Meskipun   biaya negri jauh lebih besar dari swasta. Apalagi   jika ditambah uang suap berkisar Rp. 2 juta   rupiah.

· Pada hari Minggu dan hari libur ada aturan tidak tertulis semua media masa =>Pada saat itu radio, karena TV baru TVRI. Semua mengumandangkan seni tradisi. Seolah-olah masyarakat dipaksa untuk mendengarkan seni tradisi dari pagi sampai sore.

· Pagelaran budaya lokal dapat dinikmati tiap saat =>Pada hari biasapun acara “Tembang Sunda” dari Radio bisa dicari dari pulang sekolah sampai malam. Hingga yang senang “Tembang Sunda” bisa menikmatinya hingga ia menjelang tidur dengan berpindah-pindah gelombang.

· Ada kerinduan terhadap budaya lokal => hingga pada hari besar HUTRI misalnya, merupakan acara wajib untuk menggelar Rampak Sekar, Sekar Catur, Gondang dan Drama Perjuangan berbahasa Sunda. Pada saat ini panggung HUTRI dipenuhi oleh budaya Asing apalagi bagi kawula muda.

Pada saat itu karakter bangsa kita masih utuh. Namun bagi para politikus karakter yang utuh ini justru merugikan karena masyarakat, suaranya menjadi mahal tidak bisa dibeli dengan harta, kecuali dengan suri dan tauladan yang baik dari sang pemimpin. Kendati pada saat itu kecurangan politik sangat besar. Namun penguasa menyadari kekuatan masyarakat karena mereka memenangkan pemilu dengan kedustaan dalam setiap pemilihan umum.

Berawal demi kepentingan para “politikus” perubahanpun terjadi. Banyak ahli budaya yang berurusan dengan koramil setelah menggelar karya seninya. Bahkan beberapa dalang Purwa Sunda pada saat itu pasti pernah merasakan penjara tanpa peradilan. Upaya tersebut hanya untuk merubah pendapat masyarakat bahwa seni hanyalah sebagai alat hiburan, tidak boleh digunakan hal lain termasuk pembinaan moral dan mental.

Inilah sekelumit kisah yang bisa kita tapakuri jika kita merasa memiliki akal dan pikiran. Ternyata kendati pemahaman Agama dikalangan masyarakat pada saat ini lebih maju daripada tempo dahulu, moralitas bangsa bahkan menjadi terpuruk. Apa yang berubah dalam masyarak kita?

· Pemahaman dan kesadaran Agama yang terpuruk?

· Pemahaman dan kesadaran budaya lokal yang semakin terpuruk?

Jika anda menjawab dengan jujur kedua pertanyaan tersebut  jelas yang semakin terpuruk adalah pemahaman dan kesadaran budaya lokal. Bagi orang Sunda budaya Sunda. Bahkan dikalangan guru kesenian dan senibudaya. Seni menjadi tanpa makna kendati menurut mereka penuh dengan kreasi, namun kreasi tersebut mengikis esensi.

Masihkah anda tidak percaya kepada Konsep budaya Sunda yang disebut dengan “Tarumpah Ampal Kencana” budaya dan Agama adalah Sandal kanan dan sandal kiri yang tidak berguna manakala digunakan sebelah. Atau menggunakan sandal kiri dikedua kaki kita.

Semoga kita diberi petunjuk Illahi.

September 2009

Selesai pada ahir Puasa

Jayadiprana

Begitu selesai hasil tapakur ini ditulis. Terdengar kabar dari media masa Gembong Terorisme yang dicari selama sembilan tahun Nurdin M Top Tertembak mati di Solo. Sebaiknya kita menyediakan wahana perjuangan lain kepada para Mujahid agar ia berjuang dan berjihad secara benar. Karena dengan tertangkapnya Gembong Teroris sekaliber Nurdin M Top atau lebih besar sekalipun jika para Mujahid tersebut tidak memiliki cara dan strategi lain untuk berjihan maka ia akan kembali tersesat dalam jihadnya karena ketidak sabaran dan ketidak tahanan dalam menghadapi kemunafikan dan kedzaliman.